Teknik listrik atau teknik elektro (bahasa Inggris: electrical engineering) adalah salah satu bidang ilmu teknik mengenai aplikasi listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.[1] Teknik listrik melibatkan konsep, perancangan, pengembangan, dan produksi perangkat listrik dan elektronik yang dibutuhkan oleh masyarakat.[1] Insinyur listrik adalah kaum profesional yang memegang peranan penting dalam mengembangkan dan memajukan teknologi tinggi dalam dunia komputer, laser, penjelajahan angkasa, telekomunikasi, energi, dan aplikasi lainnya dari perangkat dan sistem elektronik.[1] Teknik listrik bekerja sama dengan insinyur dari area lain seperti teknik kimia, teknik mesin, dan teknik sipil untuk merancang, mengembangkan, dan membantu produksi berbagai macam produk dan jasa seperti sistem distribusi energi, komputer pribadi, sistem satelit, radio genggam, sistem radar, mobil listrik, jantung buatan, dan lain-lain yang melibatkan komponen listrik dan elektronik
Readmore..
Jumat, 21 Oktober 2011
Pagi yang Indah di Hari Sabtu
Saat ini, rinduku memuncak....
Apa kabar kampung halamanku???
Hari ini aku akan menjengukmu...
Kamis, 20 Oktober 2011
Motion Capture dan Pemanfaatannya pada Bidang Perfilman dan Game
Dalam dunia entertainment, khususnya pada dunia perfilman, kadang ditemukan tokoh yang bukan merupakan makhluk hidup asli, tetapi berupa tokoh tiruan berupa animasi tiga dimensi (3D). Animasi 3D tersebut dapat berupa manusia tiruan, binatang, pepohonan dan segala benda yang menjadi obyek pada perfilman tersebut. Hal serupa juga dapat dilakukan dalam dunia permainan. Dahulu permainan diwujudkan dengan gambar dua dimensi (2D), namun saat ini sudah dikembangkan animasi 3D, sehingga dapat dibentuk obyek yang sangat mirip dengan yang sebenarnya, demikian pula pada gerakan manusia atau gerakan objek lainnya. Pada bidang game dan animasi, untuk membuat pergerakan karakter yang realistis data menggunakan teknologi penangkapan gerak atau biasa disebut motion capture.
Mekanisme Motion Capture :
Motion capture atau motion tracking adalah teknologi yang digunakan untuk mendeskripsikan proses dari perekaman gerakan kemudian mentransformasikan informasi gerakan yang didapat menjadi suatu model digital. Motion capture diilhami oleh sebuah pemikiran tentang proses penengkapan gerak manusia dan keterbatasan akses teknologi.
Prinsip utama kerja sistem penangkapan gerak manusia adalah ketika pergerakan manusia tertangkap oleh kamera yang sudah terlengkapi dengan perangkat visi computer, maka model 3D yang bersesuaian akan menyesuaikan dengan pergerakan tersebut. Penggambaran pergerakan manusia akan ditampilkan dalam monitor computer. Dalam hal ini, varian penggambaran dapat terjadi sesuai dengan program yang digunakan.
Dalam motion capture, dikenal dengan adanya model, dalam hal ini adalah manusia. Ada tiga tipe penangkapan model :
1. Model aktif, yaitu model digunakan secara langsung untuk proses penangkapan gerak manusia. Berarti penggunaan model seperti ini berperan secara aktif di keseluruhan proses sistem penangkapan gerak manusia.
2. Model pasif, yaitu model digunakan untuk panduan proses penangkapan gerak. Model berperan sebagai sumber panduan pengenalan bagian tubuh manusia dan sebagai panduan informasi lainnya yang berhubungan dengan bentuk tubuh manusia.
3. Tanpa model, model hanya digunakan sebagai representasi akhir. Model tidak digunakan selama proses penangkapan gerak manusia, tetapi hanya sebuah representasi hasil dari sistem.
Setelah penangkapan gerak, proses selanjutnya adalah representasi data untuk menggambarkan model manusia. Beberapa representasi yang sering digunakan antara lain:
1. Representasi silhouette/contours
Representasi silhouette/contours merupakan cara representasi model dengan pencocokan siluet dari gambar dengan siluet dari model yang digambarkan sebagai proses penyamaan area. Representasi ini menghasilkan kontur yang sesuai dengan kontur model. 2. Representasi stick-figure/joint
Representasi stick-figure merupakan salah satu metode atau teknik permodelan yang menggunakan model persendian atau model figure tongkat.Model seperti ini sering dipakai karena mewakili fitur anatomi manusia. Artinya, model manusia yang direkam dipresentasikan sebagai gambar tongkat. Misalnya lengan dan kaki, yang hanya digambarkan dalam tongkat. Metode ini memiliki keunggulan dalam penangkapan gerak model manusia serta pose yang dilakukan.
Pada dasarnya, perbedaan sudut pandang dalam mengambil gambar bukanlah sesuatu yang tidak memiliki hubungan. Ada beberapa hubungan diantara duga gambar, tiga gambar, atau lebih. Hubungan antar gambar ini mengandung banyak makna dan dapat digunakan untuk mendapatkan suatu informasi dari suatu gambar. Dasar inilah yang mendasari penangkapan gerak secara tiga dimensi (3D). untuk merekontruksi gambar – gambar tersebut menjadi suatu bentuk tiga dimensi dapat digunakan metode triangulasi.

Titik – titik yang diperoleh pada setiap penggambaran oleh masing - masing kamera akan ditransformasikan dalam koordinat 3D dunia melalui parameter intrinsik dan ekstrinsik kamera, kemudian dari masing – masing pusat kamera dalam koordinat 3D dunia ditarik garis dari pusat kamera melintasi semua titik – titik penanda pada penggambaran yang diperoleh. Hasil perpotongan garis yang melintasi titik – titik penanda merupakan titik rekontruksi tiga dimensi.
Dalam pengambilan gerak, khusunya gerak 3D, perlu digunakan ruang penangkapan gerak. Ruang penangkapan gerak merupakan sebuah ruangan tertutup yang disetiap sudutnya telah dipasang kamera sesuai dengan rancangan. Ruang penangkapan gerak ini berfungsi untuk menjaga intensitas cahaya yang masuk agar tidak berubah. Pengaturan intensitas cahaya ini diperlukan, karena hasil penangkapan gambar dengan menggunakan kamera juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Jika intensitas cahaya yang masuk terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka pengambilan gambar akan tidak sempurna.

Agar kamera dapat mendeteksi gerak model, dapat digunakan suatu penanda titik yang dipasang pada sebuah kostum. Kostum ini dikenakan oleh model manusia, sehingga pada proses rekontruksi, kamera dapat mendeteksi gerak model. Teknik seperti ini digunakan pada representasi figur tongkat.
Koperasi Mahasiswa sebagai Kreator Entrepreneur Muda
Entrepreneur merupakan sesuatu yang sedang dibutuhkan oleh bangsa ini. Terbukti, di Indonesia dari 231,83 juta penduduk, hanya terdapat 64.240 unit usaha berskala kecil menengah dan besar atau 0,24 persen dari total penduduk. Padahal, menurut para ahli, suatu negara hanya bisa maju jika jumlah wirausahanya sebesar dua persen dari total penduduk. Untuk memenuhi itu, Indonesia membutuhkan sebanyak 4,07 juta wirausaha atau entrepreneur baru. Sekarang muncul sebuah pertanyaan, melalui apa Indonesia dapat membentuk para entrepreneur baru? Salah satu solusinya adalah dengan pembentukan jiwa entrepreneurship di kalangan kampus yang telah dan tengah dilakukan perlu terus-menerus diwujudkan menjadi program andalan. Salah satu program andalan yang digunakan adalah koperasi mahasiswa. Ada banyak alasan mengapa koperasi digunakan sebagai pencetak entrepreneur muda. Salah satunya adalah koperasi dapat digunakan sebagai penyalur ide – ide kreatif dan inovatif dari para mahasiswa. Bermula dari ide inilah seorang mahasiswa akan mampu melatih kemampuannya dalam bidang entrepreneur. Ide inilah yang membedakan seorang pengusaha dengan seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur haruslah mencari ide – ide yang tidak hanya bermanfaat, namun memiliki ciri khas dalam bidang inovasinya. Tidak kalah penting adalah koperasi sebagai wujud pelatihan berorganisasi. Sebagai seorang entrepreneur, sudah seharusnya memiliki jiwa organisasi. Dengan memiliki kemampuan ini seseorang dapat mudah dalam menjalin relasi dengan orang lain, serta mampu memangemen bagian – bagian dalam sebuah sistem organisasi. Dengan demikian koperasi mahasiswa dapat membantu seorang mahasiswa untuk belajar berorganisasi serta meciptakan era mahasiswa yang mandiri, kreatif, memiliki jiwa entrepreneurship, serta mampu dalam organisasi.
Readmore..
Langganan:
Postingan (Atom)